BREAKING NEWS
https://picasion.com/

Senin, 28 Maret 2022

Afner Juliwarno Minta Pemkab Seruyan Bantu Asrama Mahasiswa Luar Daerah

KUALA PEMBUANG- Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Seruyan, Afner Juliwarno menuturkan, bahwa dirinya masih segar dan begitu lekat dalam ingatannya bagaimana dulu ketika masih belajar di Yogyakarta dengan status mahasiswa asal Seruyan, Kalimantan Tengah, dan salah satu dari sekian mahasiswa miskin yang nekad belajar di universitas. 

"Saya disana (Yogyakarta) pernah mengalami numpang tidur di kontrakan teman dan ditampung seorang teman selama setahun," ujar Afner Juliwarno di Kuala Pembuang, Senin (28/3/2022).

Bukankah ada beasiswa bagi mahasiswa miskin? Jawab Afner, Ya ada. 

Akan tetapi, lanjut Afner, nepotisme tetap menjadi budaya yang mengakar di lembaga pemerintah, terkhusus pemerintah daerah waktu itu. 

Alhasil, sambung Afner, mereka yang memiliki keluarga PNS atau trik orang dalam lah yang dapat menikmatinya. 

"Dan jujur, mereka yang dapat beasiswa itu tak memiliki prestasi apapun, serta nyaris cacat dalam berargumentasi dan anti intelektualisme," ujar Afner.

Akan tetapi, lupakan itu sementara. Menurut Afner, ketika dirinya menulis cerita pendek, ada seorang teman lebih muda dari dirinya mengatakan bahwa dia ingin menulis berita tentang bagaimana persoalan dirinya yang terus menerus berulang, yaitu tidak memiliki asrama alias terus menerus menyewa rumah untuk dijadikan asrama. 

Dan per 22 Februari 2022 dalam berita dituliskan bahwa anggaran sewa rumah itu telah ditiadakan.

"Tidak ada dasar kuat yang dapat dijadikan acuan mengapa anggaran tersebut ditiadakan. Apakah karena Covidtalisme? Atau apa? Padahal, menjadi kewajiban mutlak (harus) bagi pemerintah daerah untuk menjamin setiap orang (mahasiswa) daerahnya, terlebih mereka yang mengenyam pendidikan di luar daerah," ujar Afner.

"Untuk apa sajakah APBD tahun 2022 senilai 1,081 triliun itu? Dan berapa sih uang sewa rumah? Apakah semua APBD ini untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Seruyan," tanya Afner menambahkan.

After berasumsi atau dugaan pemerintah daerah mungkin beranggapan bahwa mahasiswa tidak begitu penting dan tidak memiliki fungsi apapun untuk keberlangsungan hidup ke depan. 

"Jika benar saja dugaan saya ini, maka generalisir semacam ini sangat memiliki efek yang mengerikan bagi psikis siapa pun dalam status itu. Oleh karenanya, hal seperti ini jangan dianggap remeh oleh pemerintah daerah," kata Afner lagi.

"Jika tidak diselesaikan, tentu saja akan terjadi konflik horisontal antara mahasiswa Seruyan di luar daerah dan pemerintah daerah," ujar Afner lagi.

Ditambahkan Afner, dirinya tidak akan khawatir dengan mahasiswa Seruyan yang terbiasa dengan konflik. Tetapi, justru mereka yang menjunjung tinggi citra untuk kekuasaan itulah yang mesti waspada. 

"Ingat, jangan pernah menganggap remeh tentang ini," tegas Afner.

Afner menyebutkan, bahwa dirinya melihat dengan mata kepala sendiri, perjuangan mahasiswa Seruyan di Yogyakarta.

"Pulang kuliah bikin nasi goreng pakai minyak bekas dab royco tanpa bawang ataupun cabe," sebut Afner.

Melihat hal itu, Afner berharap kepada Pemkab Seruyan melalui instansi terkait bisa sedikit meringankan beban mereka, salah satunya sewa asrama.

Afner juga yakin jika semakin tingginya pendidikan masyarakat Seruyan maka kualitas SDM juga akan meningkat. Peningkatan SDM diharapkan mampu membawa daerah lebih maju dan berkembang lagi ke depannya.

"Saya meminta karena mahasiswa ini merupakan aset Seruyan, karena mereka lah sebagai penerus nantinya untuk memajukan daerah, diharapkan agar pemerintah bisa membantu," tukasnya. (gan/jp).

Share Berita :

 
Copyright © 2014 Jurnalis Post. Designed by OddThemes