BREAKING NEWS

Senin, 28 September 2026

Sutrisno : Totoh Numbeng Warisan Budaya Dayak Siang yang Harus Dilestarikan

PURUK CAHU- Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya, Sutrisno, mendorong pelestarian ritual adat Totoh Numbeng sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Dayak Siang. 

Hal itu disampaikan Sutrisno saat menghadiri pelaksanaan ritual adat tersebut di Desa Dirung, Kecamatan Murung, Murung Raya, Selasa (28/9/2026).

Menurut Sutrisno, Totoh Numbeng tidak sekadar menjadi rangkaian ritual adat, tetapi juga mencerminkan identitas, kebersamaan, dan nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.

"Ritual Totoh bukan sekadar penghormatan kepada leluhur, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya, kebersamaan, dan spiritualitas yang telah diwariskan nenek moyang. Masyarakat Dayak Siang menunjukkan komitmen luar biasa dalam menjaga warisan ini, dan kita semua bertanggung jawab untuk melestarikannya,” ujar Sutrisno.

Dalam tradisi masyarakat Dayak Siang, Totoh Numbeng merupakan ritual penghormatan dan pengantaran arwah leluhur menuju alam yang kekal. Dalam konteks budaya Dayak Ngaju, ritual tersebut memiliki kemiripan fungsi dengan upacara Tiwah.

Pelaksanaan Totoh Numbeng tidak memiliki waktu yang bersifat tetap. Keluarga dapat menentukan waktu pelaksanaan berdasarkan kesiapan, antara lain kemampuan pembiayaan, kesepakatan adat, serta kesiapan dan kehadiran seluruh ahli waris.

Rangkaian ritual dilaksanakan melalui sejumlah tahapan, yakni Ngehak Hino, tahap awal yang dilakukan setelah pemakaman; Bopura Baun Tungkang, rangkaian lanjutan menjelang upacara inti; serta Somalat Pandung Kaju, sebagai persiapan akhir sebelum pelaksanaan Totoh Numbeng.

Dalam pelaksanaannya, ritual melibatkan berbagai perlengkapan adat dan hewan kurban, mulai dari ayam, babi, hingga kerbau. Kerbau memiliki posisi penting dalam prosesi dan dalam kepercayaan masyarakat setempat menjadi bagian dari simbol pengantaran arwah leluhur menuju alam baka.

Seiring perkembangan zaman, sejumlah praktik dalam tradisi masyarakat Dayak juga mengalami perubahan. Praktik Ngayau atau perburuan kepala manusia yang dikenal dalam sejarah sebagian masyarakat Dayak sebelum masa kemerdekaan telah ditinggalkan. Dalam perkembangan selanjutnya, unsur pengorbanan dalam ritual menggunakan hewan, termasuk kerbau, sebagai bagian dari pelaksanaan adat.

Sutrisno menilai pelestarian tradisi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama dalam memastikan generasi muda tetap memahami akar budaya daerah di tengah perkembangan zaman.

"Generasi muda harus mengenal dan memahami budaya daerahnya. Pelestarian warisan budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab masyarakat adat, tetapi membutuhkan dukungan pemerintah, dunia akademik, dan seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Ia berharap ritual adat seperti Totoh Numbeng dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya tanpa kehilangan nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.

Pelaksanaan Totoh Numbeng di Desa Dirung berlangsung khidmat dan dihadiri tokoh adat, masyarakat setempat, serta unsur pemerintahan. (maya/jp).

Share Berita :

 
Copyright © 2014 Jurnalis Post. Designed by OddThemes