BREAKING NEWS

Jumat, 05 Januari 2024

Pemkab Bartim Berencana Bangun Replika Jembatan Belanda yang Hanyut Terbawa Banjir

TAMIANG LAYANG- Pemerintah Kabupaten Barito Timur berencana membangun replika Jembatan Belanda di Kelurahan Ampah Kota, Kecamatan Dusun Timur yang runtuh dan hanyut terbawa banjir.

"Kemarin ada tim dari kabupaten yang terdiri dari Disbudparpora, Dinas PUPR Perkim dan BPBD Damkar turun meninjau langsung ke titik lokasi runtuhnya Jembatan Belanda itu," ungkap Camat Dusun Tengah, Prismayandi di Tamiang Layang, Kamis (4/1).

Ia menjelaskan, setelah jembatan tersebut runtuh masyarakat menyampaikan keinginan melalui pemerintah kelurahan dan kecamatan agar jembatan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda itu dibangun kembali.

"Harapan kami bersama masyarakat juga di Dusun Tengah karena ini historikalnya adalah sejarah peninggalan kolonial Belanda yang kebetulan berada di Kecamatan Dusun Tengah, supaya minimal ada wujud kembali yang walaupun tidak asli lagi tapi bisa diceritakan dan dilihat anak cucu kita ke depan," terang Prismayandi.

Dia beralasan, jika berbicara sejarah, namun tidak ada wujudnya sulit untuk menganalogikan bahwa sejarah yang dimaksud benar-benar ada. 

"Kalau ada wujudnya kita bisa mengingat dan meneruskan ceritanya ke anak cucu kita," tutur Prismayandi.

Ditambahkan Prismayandi, Pemerintah Kecamatan Dusun Tengah telah mengkomunikasikan dengan Dinas PUPR Perkim agar dapat dibangun kembali replika Jembatan Belanda dengan puing-puing yang ditemukan hanyut beberapa ratus meter dari lokasi awal jembatan tersebut berdiri.

"Yang tersisa saat ini mungkin sekitar 20 persen dari bangunan. Ada sebagian yang ditemukan warga di sekitar 200 meter dari titik jembatan, di belakang pasar. Informasi dari warga juga bahwa balok ukuran 40x40 itu cukup berat dan tidak mungkin hanyut terlalu jauh. Jadi kita tunggu air surut untuk mencari, karena kita tahu bersama bahan baku jembatan ini adalah kayu ulin dan sulit kita mendapatkan ukuran kayu yang sebesar itu sekarang," kata Camat.

Menurutnya, jika keinginan masyarakat dan pemerintah untuk membuat kembali replika jembatan yang terdaftar sebagai situs sejarah itu bisa direalisasikan, maka puing-puing itu tidak boleh diambil oleh masyarakat untuk kepentingan pribadi.

"Bagi masyarakat yang menemukan puing-puingnya tolong diamankan dan dilaporkan ke pemerintah desa setempat supaya bahan baku atau material itu tidak hilang 100 persen dan dapat dimanfaatkan kembali untuk pembuatan replika jembatan. Replika ini nanti sebagai wujud atau gambaran bahwa di sini pernah ada jembatan peninggalan Belanda walaupun ukurannya tidak sama persis," ujar Prismayandi.

Jembatan Bakubung (beratap) atau lebih dikenal dengan sebutan Jembatan Belanda di Kelurahan Ampah Kota, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur itu runtuh dan hanyut dibawa banjir sekitar pukul 20.45 WIB, Selasa (2/1). 

Jembatan yang diperkirakan dibangun pada tahun 1928 dan membentang di atas Sungai Karau serta menghubungkan RT 01 dan RT 33 Kelurahan Ampah Kota tersebut memiliki nilai historis bagi masyarakat Barito Timur karena dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Itu sebabnya, sudah beberapa kali warga setempat berupaya mempertahankan keberadaannya dengan bergotong royong dan mengumpulkan sumbangan untuk memperbaiki jembatan yang terbuat dari kayu ulin itu.

Pemerintah daerah juga sempat memperbaiki jembatan tersebut beberapa waktu lalu namun hanya bagian lantai dan atap yang diperbaiki.

Jembatan Belanda pada masanya merupakan penghubung utama dari Banjarmasin menuju Muara Teweh dan Puruk Cahu, namun mulai tahun 1990-an sejak dibangun jembatan beton di sampingnya sebagai pengganti, jembatan tersebut hanya digunakan warga yang berjalan kaki ke pasar maupun ke musala.

Sejak saat itu pula jembatan ulin sepanjang 28 meter yang merupakan bukti sejarah peninggalan zaman kolonial Belanda tersebut nyaris tidak mendapatkan perawatan dari pemerintah. (zi/jp). 

Share Berita :

 
Copyright © 2014 Jurnalis Post. Designed by OddThemes