BUNTOK- Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Barito Selatan, Ita Minarni membuka secara resmi Forum Koordinasi Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Barito Selatan Tahun 2025, di Aula Bapperida Barsel, Kamis (13/11/25).
Acara tersebut dihadiri Pimpinan dan anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Staf Ahli Bupati Barito Selatan, Para Asisten Sekretaris Daerah Kabupaten Barito Selatan, Kepala BPS Barito Selatan, Kepala KPPN Buntok, Kepala Cabang Bank Kalteng Buntok, Kepala Bulog Buntok, Kepala Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Barito Selatan, Camat se-Kabupaten Barito Selatan, dan tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya Pj Sekda Ita Minarni, mengatakan bahwa berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor: 000.4.6/3764/SJ tanggal 11 Juli 2025 tentang Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah, dimana dalam rangka mendukung target nasional pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025-2029, pemerintah daerah berkewajiban memperkuat sinergi dan mempercepat langkah nyata ditingkat lokal.
"Pemerintah daerah diminta untuk membentuk Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah, melaksanakan sembilan langkah konkret seperti percepatan APBD, peningkatan realisasi investasi, pembangunan infrastruktur strategis, penguatan sektor produktif, serta kemudahan perizinan, dan mengoptimalkan penggunaan APBD bagi kegiatan yang berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Selain itu, kata Ita, daerah juga diwajibkan melakukan pemantauan dan evaluasi berkala atas capaian indikator ekonomi serta melaporkannya kepada Kementerian Dalam Negeri.
Sebagai bentuk komitmen terhadap arahan tersebut, Pemkab Barito Selatan telah membentuk Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TPPED) dengan Sekretaris Daerah sebagai Ketua Tim, Kepala Bappeda sebagai Sekretaris, serta anggota yang terdiri dari unsur organisasi perangkat daerah terkait, kejaksaan, kepolisian, TNI, perbankan, dunia usaha, dan instansi vertikal lainnya sesuai kebutuhan.
"Tugas yang diamanahkan kepada Tim ini sangat jelas dan terukur. Kita ditugaskan untuk memantau, mengawal, dan melaporkan implementasi dari sembilan langkah konkret percepatan pertumbuhan ekonomi. Sembilan langkah ini mencakup seluruh sendi perekonomian kita, mulai dari percepatan realisasi APBD, peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur, pengendalian harga, hingga kemudahan berusaha," kata Ita.
Ita menjelaskan, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Barito Selatan, sampai dengan triwulan II Tahun 2025, Ekonomi Kabupaten Barito Selatan tumbuh sebesar 3.39 persen. Dibandingkan dengan triwulan II Tahun 2024 yang tumbuh sebesar 3,85 persen, secara year on year (yoy), maka terjadi pelambatan pertumbuhan pada triwulan I dan II 2025 yang dipengaruhi oleh penurunan pada sektor primer, yaitu penurunan aktivitas pertambangan dan penggalian.
"Namun demikian, dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I Tahun 2025 sebesar 2,64 persen, secara quarter over quarter (qoq), maka pertumbuhan ekonomi triwulan II Tahun 2025 sebesar 3,39 persen telah nampak mengalami perbaikan sebesar 0,75 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan yang meningkat pada triwulan II dipengaruhi oleh peningkatan sektor tersier yang juga memberikan kontribusi terbesar yaitu, 53.55 persen, meningkat 1.73 persen dibandingkan triwulan lalu," lanjut Ita.
Kemudian ujar Ita, berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2025-2029, pertumbuhan ekonomi Barito Selatan ditargetkan meningkat secara bertahap dari 3,18 persen pada tahun 2025 menjadi 4,02 persen pada tahun 2029.
"Target ini tentu bukan hal yang mudah untuk dicapai, mengingat struktur ekonomi daerah kita masih didominasi oleh sektor primer yang fluktuatif dan belum sepenuhnya memberikan nilai tambah yang optimal," ujarnya.
Iya menyebut, bahwa secara umum, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Barito Selatan ditopang oleh beberapa sektor strategis yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
"Sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan tetap menjadi penopang utama mata pencaharian masyarakat, dan kita terus dorong agar lebih produktif serta bernilai tambah melalui inovasi dan dukungan infrastruktur yang memadai," tambahnya.
Sementara untuk sektor pertambangan dan energi ujar Ita, masih berkontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah, namun perlu di arahkan agar lebih berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Kemudian, sektor perdagangan, jasa, dan UMKM juga tumbuh menjadi penggerak utama ekonomi rakyat. Pemerintah daerah terus berupaya memperluas akses permodalan, pelatihan, dan digitalisasi agar pelaku usaha lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Selain itu, sektor pariwisata berbasis alam dan budaya lokal mulai menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Potensi wisata sungai, alam pedesaan, serta tradisi masyarakat menjadi kekuatan unik yang dapat membuka peluang ekonomi baru bagi daerah.
"Ke depan, kita juga akan memperkuat sektor industri pengolahan dan ekonomi kreatif, agar sumber daya lokal tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang membawa manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat BaritoSelatan" jelas Ita.
Namun demikian, ujar Ita, juga dihadapkan dari berbagai tantangan, seperti ketergantungan terhadap komoditas tertentu terutama pada sektor perkebunan, pertambangan dan keterbatasan infrastruktur dasar yang mendukung konektivitas antarwilayah, serta masih rendahnya nilai tambah dari produk-produk unggulan daerah. Kondisi ini menyebabkan struktur ekonomi belum sepenuhnya berimbang dan rentan terhadap fluktuasi harga komoditas di pasar global.
"Oleh karena itu, diperlukan upaya nyata agar pertumbuhan ekonomi Barito Selatan tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkualitas, inklusif, dan berdaya saing. Tantangan tersebut semakin berat di tengah kapasitas fiskal daerah yang menurun akibat pengurangan dana transfer ke daerah, yang berdampak pada terbatasnya ruang fiskal untuk pembiayaan pembangunan. Dalam situasi ini, kita dituntut untuk semakin kreatif, inovatif, dan kolaboratif dalam menggali potensi lokal, memperkuat kemitraan dengan pihak swasta, serta mendorong investasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat agar fondasi ekonomi daerah menjadi lebih kuat dan berkelanjutan," jelasnya.
Ita mengajak seluruh pihak, baik pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat, untuk bersinergi dan berkolaborasi secara nyata dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah.
Kemudian, menggali setiap potensi, ciptakan inovasi lokal, dan dorong investasi yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selai itu, juga perlu memastikan bahwa percepatan ekonomi yang diwujudkan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan angka, tetapi pada pemerataan dan keberlanjutan.
"Lalu, pembangunan ekonomi harus berpihak kepada rakyat, membuka lapangan kerja baru, menekan angka kemiskinan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Barito Selatan secara menyeluruh," tambah Ita.
Oleh karena itu lanjut Ita, rapat koordinasi hari ini menjadi momentum penting untuk menyatukan visi, menyusun langkah konkret, dan memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan "Barito Selatan yang sejahtera, berdaya saing serta menjadi Penyangga Pangan dan Energi Nusantara".
"Kita menyadari bahwa percepatan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dicapai hanya dengan kebijakan makro semata, tetapi juga membutuhkan komitmen, inovasi, dan kerja sama lintas sektor. Karena itu, melalui forum ini saya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun ekosistem ekonomi yang sehat, inklusif, dan berkeadilan," tutupnya. (mmc/zi/jp).










