BANJARMASIN- Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin, Ikhsan Budiman, menghadiri kegiatan Urun Rembuk bersama para tokoh masyarakat Kota Banjarmasin. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Al Furqan, Jalan Bumi Mas Raya, Kelurahan Pemurus Baru, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kamis (15/1/2026) siang.
Urun rembuk ini menjadi wadah dialog antara Pemerintah Kota Banjarmasin dan masyarakat untuk membahas berbagai persoalan krusial, khususnya terkait musibah air pasang hingga banjir yang kerap melanda Kota Banjarmasin, serta persoalan pengelolaan sampah.
Dalam kesempatan tersebut, Sekda Ikhsan Budiman, menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Banjarmasin telah melakukan pemetaan terhadap 512 sungai yang ada di wilayah kota. Dari hasil pemetaan tersebut, diketahui banyak sungai yang kondisinya semakin memprihatinkan, bahkan sebagian mengalami penyempitan dan kehilangan fungsi.
"Banyak sungai yang sudah hilang atau memendek. Ada yang tersisa hanya sekitar 20 meter, bahkan ada yang tinggal 10 meter saja,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Pemkot Banjarmasin sebenarnya telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2009 yang mengatur konsep rumah panggung. Namun, pada kenyataannya di lapangan masih ditemukan bangunan yang menguruk halaman hingga menutup drainase, bahkan berdiri di atas badan sungai.
Selain itu, Pemkot Banjarmasin juga telah melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten yang sungainya terhubung langsung dengan Kota Banjarmasin, guna mendukung upaya normalisasi sungai secara terpadu.
Terkait pengelolaan sampah, Sekda Ikhsan, mengungkapkan bahwa Pemkot Banjarmasin telah berupaya membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di setiap kecamatan. Namun, rencana tersebut kerap mendapat penolakan dari masyarakat sekitar.
"Ke depan, Pemkot berencana memaksimalkan TPA Basirih sebagai lokasi pengolahan sampah, karena masih terdapat beberapa zona atau area yang bisa digunakan. Sementara residunya akan dibawa ke TPA Banjarbakula,” jelasnya.
Sementata itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin, menyampaikan bahwa di tahun 2026 ini, Pemkot Banjarmasin akan melakukan normalisasi di sejumlah sungai yang ada di kota ini. Diantaranya Sungai Pemurus, Guring dan Pekapuran.
Selain itu, Pemkot juga akan membangun kolam retensi atau tempat parkir air sebagai upaya menahan limpahan air agar tidak menggenangi wilayah kota.
Ia juga menyampaikan kabar baik terkait penanganan banjir dari hulu. Di wilayah Riam, Kabupaten Banjar, bahwa Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, Dody Hanggodo, telah melakukan kunjungan dan menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak tinggal diam menghadapi persoalan banjir yang hampir terjadi setiap tahun.
"Salah satu solusi strategis yang direncanakan adalah pembangunan Bendungan Riam Kiwa sebagai pengendali banjir jangka panjang. Targetnya pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu tiga tahun, bahkan diupayakan dipercepat menjadi dua tahun kedepan,” ujarnya.
Dengan beroperasinya Bendungan Riam Kiwa nantinya, Menteri PU optimistis sekitar 70 persen potensi banjir di wilayah Kabupaten Banjar hingga Kota Banjarmasin, yang selama ini menerima dampak kiriman air dari daerah lain, dapat dikendalikan secara signifikan.
Kegiatan urun rembuk ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam mencari solusi bersama demi mewujudkan Kota Banjarmasin yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan. (prkm/jp).

















