BANJARMASIN- Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat merasakan kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Paparan sinar matahari terasa menyengat, indeks ultraviolet (UV) meningkat, suhu udara melonjak, serta terjadi perubahan kelembapan yang cukup drastis.
Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan.
Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis geriatri, dr. Meldy Muzada Elfa, mengatakan tubuh manusia memiliki sistem alami untuk menjaga keseimbangan suhu dan cairan (homeostasis). Namun, kemampuan tersebut dapat kewalahan ketika menghadapi cuaca ekstrem.
"Dalam kondisi tertentu, tubuh tidak mampu lagi beradaptasi dengan paparan panas berlebih,” ujarnya, dikutip dari jejakrekam.com, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai akibat suhu panas ekstrem, di antaranya Dehidrasi hingga heat stroke; Peningkatan suhu memicu produksi keringat untuk menurunkan suhu tubuh. Jika tidak diimbangi asupan cairan yang cukup, dapat terjadi dehidrasi. Kondisi ini berisiko berkembang menjadi heat stroke, yaitu keadaan darurat medis yang ditandai peningkatan suhu tubuh dan gangguan kesadaran.
Kemudian, Beban pada jantung; Cuaca panas menyebabkan pelebaran pembuluh darah, sehingga tekanan darah dapat menurun dan jantung bekerja lebih keras. Pada lansia atau penderita penyakit jantung, kondisi ini dapat memicu sesak napas hingga nyeri dada.
Kerusakan kulit akibat paparan UV; Paparan sinar ultraviolet berlebih dapat menyebabkan kulit terbakar (sunburn) dalam jangka pendek. Sementara dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko penuaan dini hingga kanker kulit.
Gangguan pernapasan dan penurunan imunitas; Udara panas dan kering kerap disertai peningkatan debu serta polusi. Hal ini berisiko memperburuk kondisi penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Selain itu, perubahan suhu ekstrem dapat menurunkan daya tahan tubuh.
Menurut dr. Meldy, kelompok yang paling rentan terhadap dampak cuaca ekstrem meliputi lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan ginjal.
"Kelompok ini memiliki sistem adaptasi tubuh yang tidak seoptimal orang dewasa sehat,” jelasnya.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat disarankan melakukan langkah-langkah pencegahan sederhana, antara lain Mengonsumsi air putih secara rutin tanpa menunggu haus; Menghindari paparan matahari langsung pukul 10.00–16.00; Menggunakan pelindung seperti topi, payung, atau tabir surya; Mengenakan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat; Membatasi aktivitas berat di luar ruangan; dan Melakukan kontrol kesehatan rutin bagi penderita penyakit kronis
"Cuaca ekstrem memang tidak dapat dikendalikan, tetapi dampaknya terhadap kesehatan bisa diminimalkan. Kondisi yang terlihat ringan seperti kepanasan dapat menjadi awal masalah kesehatan yang lebih serius,” ujarnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh dan tetap menjaga kesehatan di tengah perubahan cuaca yang ekstrem. (rls/jp).



















