BREAKING NEWS

Sabtu, 04 April 2026

Hotel Tanpa Kecap dan Perempuan di Medsos, Fenomena Kecil yang Jadi Perbincangan

BANJARMASIN- Dua fenomena keseharian yang tampak sepele namun memantik perhatian publik menjadi sorotan akademisi di Banjarmasin, mulai dari absennya kecap dalam sajian telur mata sapi setengah matang di hotel hingga kecenderungan perempuan menampilkan foto profil sendiri di media sosial.

Fenomena pertama terkait pengalaman tamu hotel yang kerap tidak menemukan kecap saat memesan telur mata sapi setengah matang. Umumnya, hotel hanya menyediakan saus tomat dan sambal sebagai pelengkap.

Ketua Dewan Penasehat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Kalimantan Selatan, Prof. Dr. Ahmad Yunani, SE, MSi, menilai hal tersebut berkaitan dengan standar layanan hotel yang mengacu pada preferensi internasional.

"Selera lokal seperti penggunaan kecap belum tentu menjadi standar internasional. Hotel umumnya mengikuti standar manajemen global yang menjadi acuan operasional,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).

Meski demikian, Yunani menekankan bahwa hotel tetap dapat menyesuaikan layanan dengan profil tamu yang menginap. Jika mayoritas tamu merupakan wisatawan domestik, penyediaan kecap dinilai relevan.

"Hotel bisa melakukan observasi. Jika tamunya lebih banyak lokal, seharusnya kecap tetap disediakan. Ini juga bisa menjadi peluang untuk mendukung produk dalam negeri,” tambahnya.

Ia juga menyebut, bahwa pada beberapa menu seperti bubur ayam atau hidangan berkuah, kecap umumnya tetap tersedia sebagai pelengkap.

Selain itu, Yunani turut menyoroti fenomena sosial di media digital, khususnya terkait foto profil di aplikasi perpesanan seperti WhatsApp.

Menurutnya, banyak perempuan yang telah berpasangan cenderung menggunakan foto diri sendiri sebagai foto profil. Sementara itu, laki-laki yang melakukan hal serupa justru kerap mendapat respons negatif dari pasangannya.

"Perempuan umumnya ingin terlihat menarik dan eksis di media sosial. Itu bagian dari karakter sosial. Sedangkan laki-laki, jika terlalu menonjol sendiri, seringkali menimbulkan kekhawatiran dari pasangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, baik laki-laki maupun perempuan pada dasarnya memiliki ruang untuk mengekspresikan diri di media sosial. Namun, keseimbangan tetap diperlukan untuk menjaga kepercayaan dalam hubungan.

"Sesekali tetap penting menampilkan kebersamaan dengan pasangan untuk menghindari kesalahpahaman. Yang terpenting tidak berlebihan,” pungkasnya. (hru/jp). 
 
Copyright © 2014 Jurnalis Post. Designed by OddThemes