TAMIANG LAYANG- Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa meluncurkan Program "Kepala Desa Masuk Kampus" Angkatan II Tahun 2026 bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI). Program ini menjadi bagian dari implementasi Program Pemerintahan Desa Berdampak untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan desa.
Berdasarkan Surat Kemendagri Nomor 100.3.3/3813/BPD, kegiatan dipusatkan di Kampus Utama Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, dan dilaksanakan secara hybrid. Pembelajaran tatap muka berlangsung pada 13–16 Juli 2026, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran daring selama dua bulan serta pendampingan di lapangan.
Program ini diikuti 868 desa inovatif yang berasal dari 37 provinsi dan 434 kabupaten/kota di Indonesia. Para kepala desa akan mendapatkan materi mengenai penguatan kepemimpinan, tata kelola pemerintahan berbasis data, pengembangan inovasi desa, hingga penerapan konsep Smart Village.
Di Kabupaten Barito Timur, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa dan Sosial (DPMDSos) mengirimkan sembilan kepala desa untuk mengikuti program tersebut. Jumlah tersebut berasal dari kuota 10 desa yang diberikan Kemendagri.
Kepala Bidang Informasi, Pembangunan dan Kawasan Perdesaan pada DPMDSos Barito Timur, Peri Rusiani, menjelaskan bahwa pada awalnya Barito Timur hanya mendapat alokasi dua desa. Namun, setelah dilakukan koordinasi dengan Kemendagri, kuota ditambah menjadi 10 desa.
"Awalnya kami hanya mendapat undangan untuk dua desa. Setelah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Kemendagri, Barito Timur diberikan kuota 10 desa. Namun, yang dapat memenuhi dan mengikuti kegiatan sebanyak sembilan kepala desa," ujarnya, Senin (13/7/2026).
Peri mengatakan, bahwa pemerintah daerah mendukung penuh pelaksanaan program tersebut karena dinilai dapat meningkatkan kapasitas kepemimpinan kepala desa dalam menghadapi tantangan pembangunan.
"Kami menyambut baik program 'Kepala Desa Masuk Kampus' ini. Program ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan dan manajerial kepala desa dalam menghadapi tantangan pembangunan desa yang semakin kompleks," katanya.
Menurut dia, pembekalan yang diberikan oleh akademisi dan praktisi di Universitas Indonesia diharapkan dapat diterapkan oleh para kepala desa dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.
"Tantangan tata kelola desa ke depan menuntut kepemimpinan yang visioner dan berbasis data. Kami berharap peserta mampu mengimplementasikan inovasi, mengoptimalkan potensi desa, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintahan desa sehingga berdampak pada kemajuan Kabupaten Barito Timur," tambahnya.
Melalui program ini, Peri berharap lahirnya kepala desa yang memiliki kapasitas kepemimpinan lebih baik, mampu menghadirkan inovasi dalam tata kelola pemerintahan, serta mendorong pembangunan desa yang adaptif, inklusif, dan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. (zi/jp).











