KANDANGAN- Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Hj Tata Syafrudin Noor, menghadiri prosesi adat perkawinan Banjar bamandi-mandi yang dirangkai dengan khataman Al-Qur’an, Sabtu (22/8/2026).
Prosesi tersebut merupakan bagian dari rangkaian adat menjelang resepsi pernikahan drg. Hj Dini Maulidia Yulia Atma Negara, putri Wakil Bupati HSS, H Suriani dan Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten HSS, Hj Misnawati, dengan Muhammad Fajar Ramadhan, putra H Sirajudin dan Hj Hasmiati.
Kegiatan berlangsung khidmat di kediaman keluarga mempelai. Prosesi turut dihadiri keluarga besar kedua mempelai, tokoh agama, serta para undangan yang memberikan doa dan restu bagi kedua calon mempelai.
Dalam tradisi masyarakat Banjar, bamandi-mandi yang juga dikenal dengan istilah badudus atau bapapai merupakan salah satu warisan budaya yang masih dipertahankan hingga kini. Tradisi tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari prosesi adat, tetapi juga mengandung nilai filosofis dan religius yang erat dengan kehidupan masyarakat Banjar.
Prosesi bamandi-mandi menjadi simbol doa dan harapan agar calon pengantin senantiasa memperoleh keselamatan, keberkahan, serta kelancaran dalam memasuki kehidupan berumah tangga. Sementara itu, khataman Al-Qur’an menjadi wujud rasa syukur sekaligus ikhtiar memohon petunjuk dan keberkahan Allah SWT bagi kedua calon mempelai.
Kehadiran Hj Tata Syafrudin Noor menjadi bentuk penghormatan sekaligus dukungan terhadap upaya pelestarian adat dan budaya Banjar, khususnya tradisi perkawinan yang berpadu dengan nilai-nilai keislaman.
Suasana acara berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Kebersamaan keluarga besar kedua mempelai bersama para undangan menambah kekhidmatan prosesi yang menjadi salah satu tahapan penting menuju kehidupan berumah tangga.
Pelestarian tradisi seperti bamandi-mandi diharapkan dapat terus dilakukan dan dikenalkan kepada generasi muda. Dengan demikian, nilai-nilai luhur adat Banjar tetap terjaga dan diwariskan secara berkelanjutan sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
Rangkaian prosesi tersebut juga menjadi pengingat bahwa adat dan agama dapat berjalan selaras dalam kehidupan masyarakat Banjar, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan rasa syukur.
Semoga kedua calon mempelai diberikan kelancaran hingga pelaksanaan resepsi pernikahan dan kelak menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta senantiasa dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan. (ari/jp).























