BREAKING NEWS

Kamis, 03 September 2026

Karhutla Barito Utara Capai 182 Kejadian, Bupati H Shalahuddin Tegaskan Penguatan Penanganan

PALANGKA RAYA- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, terus mendapat perhatian serius. Hingga 31 Agustus 2026, sebanyak 182 kejadian Karhutla tercatat dengan total luas lahan terbakar mencapai 124,19 hektare. Pada periode yang sama, pemantauan menunjukkan 405 titik panas (hotspot) tersebar di wilayah tersebut.

Data tersebut disampaikan Bupati Barito Utara, H Shalahuddin, dalam Rapat Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah di Aula Jayang Tingang, Palangka Raya, Kamis (3/9/2026).

Dalam paparannya, H Shalahuddin mengatakan Kabupaten Barito Utara saat ini berada dalam status Siaga Darurat Bencana Karhutla.

"Barito Utara saat ini berada dalam status Siaga Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan,” tegas H Shalahuddin.

Status tersebut ditetapkan selama 60 hari, terhitung sejak 1 Agustus hingga 29 September 2026. Sebagai langkah pencegahan, Pemerintah Kabupaten Barito Utara juga telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 100.3.4/1144/BPBD/VIII/2026 tentang Instruksi Larangan Pembakaran Hutan dan Lahan di seluruh wilayah Kabupaten Barito Utara.

H Shalahuddin mengungkapkan, intensitas Karhutla mengalami peningkatan signifikan sepanjang Agustus 2026. Dalam satu bulan tersebut, tercatat 192 hotspot, 102 kejadian Karhutla, dan 50,16 hektare lahan terbakar.

"Agustus menjadi periode dengan intensitas Karhutla tertinggi sepanjang 2026,” ujarnya.

Menyikapi peningkatan tersebut, Pemkab Barito Utara memprioritaskan operasi penanganan di sejumlah wilayah yang dinilai berisiko tinggi, yakni Kecamatan Teweh Selatan, Teweh Baru, dan Teweh Tengah.

Sementara itu, Kecamatan Montallat menjadi prioritas utama untuk kegiatan pencegahan dan deteksi dini karena mencatat jumlah hotspot tertinggi.

"Kita terus memperbarui penentuan wilayah prioritas berdasarkan perkembangan kejadian Karhutla, hotspot, luasan terbakar, kondisi cuaca, dan kondisi riil di lapangan,” kata H Shalahuddin.

Untuk memperkuat penanganan, BPBD Kabupaten Barito Utara mengerahkan 150 personel, terdiri atas 80 personel Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) dan Tim Reaksi Cepat (TRC), serta 70 personel cadangan.

Kekuatan tersebut diperkuat dengan 45 regu Masyarakat Peduli Api (MPA), tiga unit Desa Tangguh Bencana (Destana), serta dukungan lintas sektor dari unsur TNI/Polri, Manggala Agni, pemadam kebakaran, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), dan dunia usaha.

Dari sisi sarana operasional, BPBD Barito Utara menyiapkan 23 unit mobil tangki air, tujuh unit mobil rescue double cabin, satu unit mobil pikap, kendaraan roda dua jenis trail, serta berbagai peralatan pendukung pemadaman lainnya.

Respons penanganan dilakukan melalui berbagai langkah, antara lain sosialisasi dan imbauan, pemadaman dini, patroli rutin, operasi TRC, serta kesiapsiagaan Pusdalops selama 24 jam. Koordinasi lintas sektor juga terus diperkuat untuk mempercepat penanganan di lapangan.

Di akhir paparannya, H Shalahuddin menegaskan pentingnya penguatan pos lapangan serta sarana dan prasarana di wilayah prioritas. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk mempercepat waktu tanggap, memperkuat deteksi dini, mempercepat mobilisasi personel dan peralatan, serta memperluas jangkauan penanganan selama masa Siaga Darurat Karhutla. (emca/jp). 

Share Berita :

 
Copyright © 2014 Jurnalis Post. Designed by OddThemes