BANJARBARU- Pemerintah Kota Banjarbaru terus memperkuat komitmen menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan daerah.
Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby, bersama Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Banjarbaru melakukan kunjungan kerja ke Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di Jakarta, Jum'at (6/2/2026).
Rombongan diterima langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Pertemuan tersebut bertujuan meminta dukungan pemerintah pusat dalam rencana penetapan Kecamatan Cempaka sebagai Living Museum, yakni kawasan budaya hidup berbasis sejarah, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat.
Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa, menegaskan bahwa pengembangan Cempaka sebagai Living Museum tidak hanya berorientasi pada pelestarian sejarah, tetapi merupakan langkah strategis pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan budaya, edukasi, dan ekonomi kreatif.
"Kehadiran kami adalah upaya menyelaraskan kebijakan pusat dan daerah agar pembangunan kebudayaan di Banjarbaru dapat berjalan seiring dan saling menguatkan,” ujar Wali Kota.
Ia menambahkan, pengembangan Living Museum Cempaka juga menjadi bagian dari visi Banjarbaru menuju Kota Kreatif Nasional 2027.
"Kami berharap Cempaka dapat menjadi ruang hidup kebudayaan yang berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya,” katanya.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengapresiasi inisiatif Pemerintah Kota Banjarbaru dan KEK Banjarbaru yang dinilai serius menempatkan kebudayaan sebagai kekuatan strategis pembangunan daerah.
"Kementerian Kebudayaan terbuka memberikan dukungan, termasuk pendampingan teknis, agar pengembangan Cempaka dapat berjalan terarah dan berkelanjutan. Kami mendorong koordinasi aktif dengan satuan kerja Kementerian di daerah agar langkah yang diambil lebih optimal,” ujarnya.
Kecamatan Cempaka, khususnya kawasan Pumpung, dikenal sebagai pusat pendulangan intan tradisional. Dari kawasan ini ditemukan Intan Trisakti, intan mentah terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia dengan berat 166,75 karat.
Intan tersebut ditemukan pada 26 Agustus 1965 oleh 24 pendulang yang dipimpin H Matsam dan dinamai langsung oleh Presiden Soekarno sebagai simbol kesaktian dan kedaulatan bangsa. Nilainya ditaksir mencapai Rp10 triliun.
Namun, di balik sejarah besar tersebut, tersimpan kisah perjuangan para pendulang yang selama ini belum banyak terekspos.
Melalui konsep Cempaka Living Museum, sejarah itu dihidupkan kembali sebagai ruang edukasi, destinasi wisata sejarah, serta motor penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya. Konsep ini diharapkan mampu menjadikan Cempaka sebagai laboratorium kebudayaan terbuka yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal.
Dengan sinergi pemerintah pusat dan daerah, Pemerintah Kota Banjarbaru optimistis Cempaka akan berkembang tidak hanya sebagai saksi sejarah, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan kebudayaan dan ekonomi kreatif di Kalimantan Selatan. (mc/jp).














