MARABAHAN- BUMDes Semangat Bersama, Desa Semangat Dalam, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, menunjukkan kinerja positif dengan mengembangkan empat unit usaha aktif hingga 2025 dan meraih pendapatan Rp32 juta. Capaian ini mengantarkan BUMDes tersebut mewakili Kecamatan Alalak dalam Lomba BUMDes tingkat kabupaten.
Penilaian lomba dilaksanakan di Aula Desa Semangat Dalam, Senin (6/4/2026), dihadiri Tim Penilai BUMDes Kabupaten Barito Kuala, Camat Alalak, kepala desa se-Kecamatan Alalak, BPD, perangkat desa, serta Babinsa.
Kepala Desa Semangat Dalam, Norman, mengatakan desa memiliki potensi ekonomi yang besar, didukung letak geografis strategis sebagai jalur penghubung dengan desa-desa sekitar, seperti Semangat Karya dan Semangat Bhakti.
"Potensi ini terus kami dorong agar BUMDes berkembang dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Camat Alalak, M. Didik Kaharudin, mengapresiasi perkembangan BUMDes Semangat Bersama.
Ia berharap, lomba ini menjadi momentum peningkatan kualitas pengelolaan usaha desa.
"Semoga hasilnya maksimal dan menjadi motivasi untuk terus berkembang,” katanya.
Ketua APDESI Kecamatan Alalak, Arafik, juga menilai Desa Semangat Dalam sebagai salah satu desa dengan kemajuan pesat dalam pengelolaan BUMDes.
"Kami banyak belajar dari desa ini,” ungkapnya.
Direktur BUMDes Semangat Bersama, Rahmida, menjelaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat dalam mengelola potensi lokal.
Saat ini, BUMDes mengelola empat unit usaha, yakni sewa kios, retribusi pasar, warung BUMDes, serta penyewaan lokasi ATM. Dua unit usaha utama, sewa kios dan retribusi pasar, telah menghasilkan pendapatan Rp32 juta hingga 2025.
Selain berorientasi pada profit, BUMDes juga menjalankan fungsi sosial melalui program subsidi sewa kios bagi pelaku usaha baru. Dalam program ini, pelaku usaha mendapat keringanan biaya selama tahun pertama.
"Setelah berkembang, mereka diarahkan menyewa dengan harga normal dan tempatnya diberikan kepada pelaku usaha baru,” jelas Rahmida.
Namun, pengelolaan BUMDes juga menghadapi tantangan, salah satunya dampak kebijakan PMK 81 yang menyebabkan pemotongan Dana Desa tahap ketiga, sehingga menghambat rencana pembangunan kafe desa.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah desa mengalihkan fokus ke sektor ketahanan pangan dengan mengalokasikan Rp147 juta untuk pengembangan komoditas beras.
Rahmida menegaskan, keikutsertaan dalam lomba ini bukan semata mengejar prestasi, tetapi untuk menunjukkan potensi ekonomi desa yang dapat berkembang jika dikelola secara konsisten.
"Ini tentang membuktikan bahwa desa memiliki kekuatan ekonomi yang besar,” tandasnya. (lim/jp).
















