KANDANGAN- Ribuan jemaah dari berbagai daerah memadati Kompleks Masjid As-Sa'adah, Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Selasa (21/7/2026), untuk menghadiri Haul Ke-166 ulama besar Banjar, Al-'Alimul 'Allamah Asy-Syech Muhammad Tayyib bin Mufti Syech Muhammad As'ad atau yang dikenal sebagai Datu Taniran. Selain menjadi momentum mengenang jasa ulama, kegiatan ini juga dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten HSS untuk menegaskan komitmen melanjutkan pembangunan daerah.
Sejak pagi, kawasan masjid dan makam Datu Taniran dipenuhi ribuan jemaah laki-laki dan perempuan yang datang dari berbagai wilayah. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan syair-syair maulid yang berlangsung khusyuk dan penuh kekhidmatan.
Haul turut dihadiri Bupati HSS, H Syafrudin Noor, Wakil Bupati H Suriani, Sekda H Muhammad Noor, Ketua MUI Kalimantan Selatan sekaligus Pengasuh Ponpes Dalam Pagar Kandangan, TGH. Ahmad Syairazi, Kepala Kementerian Agama HSS, Ketua MUI HSS, para habaib, tuan guru, alim ulama, serta unsur Forkopimda dan tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya Bupati H Syafrudin Noor menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak yang telah menyukseskan pelaksanaan haul.
"Almarhum telah banyak memberikan ilmu, pengetahuan, dan teladan yang sangat berharga bagi kita semua. Terima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang telah bekerja keras sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik," ujarnya.
Bupati mengatakan, keteladanan Datu Taniran menjadi inspirasi dalam membangun masyarakat yang religius dan berakhlak. Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten HSS untuk terus melanjutkan pembangunan infrastruktur dan program-program prioritas yang manfaatnya telah dirasakan masyarakat.
Menurutnya, pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter dan nilai-nilai keagamaan sebagaimana diwariskan para ulama.
Pada kesempatan tersebut juga dibacakan manaqib atau riwayat hidup Datu Taniran oleh Ustaz M. Amin, salah seorang keturunannya. Dalam pembacaan itu dijelaskan perjalanan dakwah Datu Taniran dalam menyebarkan ajaran Islam di Kalimantan Selatan.
Datu Taniran memiliki nama lengkap Al-'Alimul 'Allamah Asy-Syech Muhammad Tayyib bin Mufti Syech Muhammad As'ad bin Puan Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Beliau lahir di Dalam Pagar, Martapura, pada 1774 dan wafat pada 1858 dalam usia sekitar 84 tahun. Makamnya berada di Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Sebagai cicit Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Datu Taniran merupakan salah satu dari lima bersaudara yang dikenal sebagai ulama besar Banjar. Masing-masing berdakwah di berbagai daerah dan dimakamkan di Sampit, Pagatan, Balimau, Tenggarong, serta Taniran.
Puncak haul diisi tausiyah oleh TGH. Ilham Chumaidi dari Banjarmasin. Dalam ceramahnya, ia mengajak jemaah meneladani kehidupan para ulama dengan menjadi pribadi yang saleh dan bermanfaat bagi sesama.
"Menjadi orang yang baik dan saleh akan membuat seseorang selalu dikenang dan didoakan banyak orang, sebagaimana Datu Taniran yang hingga kini terus diperingati," katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mendidik anak dan keturunan agar tumbuh menjadi generasi yang taat beragama.
"Kesalehan anak dan keturunan akan menjadi sumber keberkahan yang terus mengalir bagi keluarga hingga generasi berikutnya," tuturnya.
Rangkaian Haul Ke-166 Datu Taniran berlangsung aman, tertib, dan lancar hingga ditutup dengan doa bersama. Meski dihadiri ribuan jemaah, pelaksanaan kegiatan tetap kondusif berkat pengaturan panitia, relawan, dan aparat yang mengarahkan arus jemaah selama acara berlangsung. (ari/jp).




















