MARABAHAN- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Barito Kuala memperkuat pemantauan kualitas lingkungan melalui Sistem Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) dan Sistem Online Monitoring Kualitas Air (Onlimo).
Kepala DLH Kabupaten Barito Kuala, Abdi Maulana, mengatakan kedua sistem tersebut digunakan untuk memperoleh data kondisi kualitas udara dan air secara berkala sebagai bahan pemantauan dan pengelolaan lingkungan.
"SPKUA yang berada di Kantor DLH merupakan aset Kementerian Lingkungan Hidup. Alat ini mampu memantau kualitas udara dalam radius sekitar 5–6 kilometer, khususnya wilayah Kecamatan Marabahan,” kata Abdi, Rabu (30/9/2026).
Hasil pemantauan SPKUA ditampilkan dalam bentuk Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Data tersebut dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil kebijakan ketika terjadi penurunan kualitas udara.
SPKUA memantau sejumlah parameter pencemar, yakni PM10, PM2.5, sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), ozon (O3), nitrogen dioksida (NO2), dan hidrokarbon (HC).
Menurut Abdi, parameter PM10 dan PM2.5 menjadi perhatian utama ketika terjadi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), karena berkaitan dengan partikulat pencemar yang dapat memengaruhi kualitas udara.
Data hasil pemantauan SPKUA juga dapat diakses secara waktu nyata melalui situs web dan aplikasi Kementerian Lingkungan Hidup.
Sementara untuk kualitas air, DLH Batola mengoperasikan dua unit Onlimo yang ditempatkan di Sungai Barito, masing-masing di wilayah Desa Patih Muhur dan Kelurahan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan. Kedua perangkat tersebut merupakan aset Pemerintah Kabupaten Barito Kuala.
"Dua alat pemantau kualitas air berada di Sungai Barito, yakni di wilayah Desa Patih Muhur dan Kelurahan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan,” ujarnya.
Onlimo digunakan untuk memantau kondisi kualitas air Sungai Barito, termasuk mendeteksi indikasi perubahan atau potensi pencemaran. Parameter yang dipantau antara lain tingkat keasaman (pH), kebutuhan oksigen biokimiawi (BOD), kebutuhan oksigen kimiawi (COD), oksigen terlarut (DO), total padatan tersuspensi (TSS), total padatan terlarut (TDS), nitrat, dan salinitas.
Abdi menambahkan, keberadaan SPKUA dan Onlimo membantu DLH memperoleh data kondisi lingkungan secara lebih cepat. Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan kualitas udara dan air sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan di Kabupaten Barito Kuala. (dsk/ali/jp).

































