MARABAHAN- Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pulau Alalak, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, mengembangkan budidaya ayam petelur sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian desa.
Kepala Desa Pulau Alalak, Ahmad Yani, mengatakan program ini lahir setelah sejumlah usaha sebelumnya, seperti perikanan dan pertanian, belum memberikan hasil optimal.
"Potensi pasar telur masih sangat besar, sehingga kami mencoba mengembangkan usaha di sektor peternakan ayam petelur,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Menurutnya, budidaya ayam petelur memerlukan ketelitian tinggi, terutama dalam menjaga kondisi kandang agar ayam tidak mengalami stres yang dapat menurunkan produksi telur.
"Yang penting ayam tidak dikagetkan. Sirkulasi udara harus lancar dengan kipas angin agar tidak kepanasan. Kalau stres, produksi telur bisa turun,” jelasnya.
Selain itu, pengaturan suhu air minum dan pencahayaan juga menjadi faktor penting. Penggunaan lampu otomatis dinilai efektif menjaga suhu kandang tetap stabil, terutama saat cuaca dingin.
Ahmad Yani juga mengingatkan pentingnya memilih bibit ayam berkualitas. Ia menyarankan peternak menghindari pembelian ayam afkir atau ayam yang telah melewati masa produktif.
"Saya memilih bibit usia 13 minggu dari Banjarbaru, biasanya mulai bertelur pada usia 18 minggu,” katanya.
Saat ini, BUMDes Pulau Alalak mengelola sekitar 380 ekor ayam petelur.
Di sisi lain, tantangan utama dalam budidaya ini adalah menjaga kesehatan ayam. Stres menjadi faktor yang dapat menurunkan produktivitas bahkan menyebabkan kematian.
Gejala stres pada ayam antara lain kerontokan bulu tidak wajar dan kotoran yang encer.
"Kalau bulu rontok dan kotorannya cair, itu tanda ayam sedang stres,” jelas Ahmad Yani.
Untuk efisiensi, peternak menggunakan sistem distribusi langsung dari pemasok. Selain itu, penggunaan obat-obatan disesuaikan dengan kondisi ayam untuk mencegah penyebaran penyakit.
Ketua BUMDes, Ahmad Syahrani, menambahkan produksi telur mulai berjalan meski belum maksimal.
"Produksi saat ini sekitar 30 butir per hari. Targetnya bisa mencapai 200 hingga 300 butir per hari saat semua ayam sudah produktif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, usaha ini mendapat dukungan masyarakat, terutama setelah beberapa usaha sebelumnya, seperti budidaya ikan dan penanaman cabai, mengalami kegagalan akibat faktor alam.
"Kalau hasilnya stabil, ke depan kandang akan kami perluas,” katanya.
Dengan pengelolaan yang baik, budidaya ayam petelur ini diharapkan mampu menjadikan Desa Pulau Alalak sebagai salah satu pemasok telur mandiri di wilayahnya sekaligus meningkatkan pendapatan asli desa (PAD). (lim/jp).
















