JAKARTA- Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat dan dinilai berpotensi mengubah lanskap geopolitik global. Situasi ini tidak lagi sebatas perang proksi, tetapi mengarah pada konfrontasi langsung yang dapat berdampak luas, termasuk bagi negara-negara berkembang.
Di kawasan Timur Tengah, konflik ini membentuk dua poros kekuatan. Iran memperkuat jaringan aliansinya di kawasan, sementara AS meningkatkan kerja sama strategis dengan negara-negara mitra. Polarisasi tersebut mempertegas rivalitas yang telah berlangsung lama.
Sejumlah pengamat menilai, konflik ini tidak hanya berkaitan dengan kepentingan keamanan, tetapi juga mencerminkan persaingan pengaruh global. Di satu sisi, Iran memposisikan diri sebagai kekuatan yang menentang dominasi Barat. Di sisi lain, AS tetap mendorong agenda demokrasi dan stabilitas kawasan melalui pendekatan diplomasi dan tekanan ekonomi.
Di tengah ketegangan tersebut, kondisi negara-negara berkembang masih menghadapi tantangan serius. Data World Bank per September 2025 mencatat sekitar 808 juta orang di dunia hidup dalam kemiskinan ekstrem. Sebagian besar berada di wilayah yang rentan konflik, terutama di Sub-Sahara Afrika, di mana sekitar 46 persen populasi hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem.
World Bank juga menetapkan standar baru garis kemiskinan internasional sebesar US$ 3,00 per hari. Perubahan ini berdampak pada peningkatan jumlah penduduk miskin secara statistik di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia.
Situasi global ini menjadi ujian bagi banyak negara, termasuk Indonesia, dalam menentukan posisi strategis di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.
Sejarah mencatat, pada masa awal kemerdekaan, kepemimpinan nasional mampu menempatkan Indonesia pada posisi strategis melalui politik luar negeri bebas aktif.
Pertanyaannya kini, bagaimana arah kebijakan luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam merespons perubahan tatanan global tersebut. (rls/ali/jp).



















