KUALA PEMBUANG- Keterbatasan tenaga kesehatan, terutama dokter umum, masih menjadi kendala dalam pemerataan pelayanan kesehatan di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Kondisi ini paling dirasakan di sejumlah wilayah pedalaman yang menghadapi tantangan geografis dan jarak tempuh yang jauh.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Seruyan telah mengajukan penambahan tenaga kesehatan kepada pemerintah pusat melalui kementerian terkait. Tambahan tenaga tersebut diharapkan dapat memperkuat pelayanan di puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu), khususnya di wilayah pedalaman.
Kepala Dinkes Seruyan, dr. Riza Syahputra, mengatakan kebutuhan tenaga kesehatan menjadi salah satu perhatian utama pemerintah daerah. Sejumlah wilayah, seperti Langkai dan Manjul, masih membutuhkan tambahan dokter umum.
"Program ke depan untuk Puskesmas dan Pustu di daerah pedalaman yang nakesnya saat ini kurang, kami sudah meminta penempatan nakes dari pusat, ditambah dokter umum seperti daerah Langkai dan Manjul,” kata Riza saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (1/9/2026).
Menurut Riza, pengajuan tambahan tenaga kesehatan harus didasarkan pada data kebutuhan yang akurat. Karena itu, Dinkes Seruyan akan kembali melakukan pendataan terhadap kebutuhan dokter, tenaga kesehatan, serta tenaga medis lainnya di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
"Kami akan mengumpulkan data nakes yang akurat. Tetapi kami sudah meminta dan mengajukan ke kementerian untuk nakes itu sendiri, baik dokter maupun tenaga kesehatan lainnya. Semoga ini bisa disetujui oleh pihak kementerian,” ujarnya.
Riza menegaskan, pendataan tersebut penting agar distribusi tenaga kesehatan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan, bukan sekadar berdasarkan perkiraan.
Selain keterbatasan tenaga kesehatan, kondisi geografis Seruyan yang memiliki wilayah luas juga menjadi tantangan dalam pemerataan pelayanan. Sejumlah fasilitas kesehatan di daerah pedalaman sulit dijangkau karena jarak yang jauh dan waktu tempuh yang cukup lama.
"Di segi pelayanan tersebut kami memiliki suatu kendala, terutama letak geografis kita. Untuk menuju ke tempat tersebut agak jauh dan memakan waktu agak lama,” ungkap Riza.
Untuk masyarakat di wilayah hulu, salah satu fasilitas rujukan yang dapat diakses adalah Rumah Sakit Hanau. Sementara itu, masyarakat di wilayah hilir dapat memperoleh pelayanan di Rumah Sakit Kuala Pembuang.
Dinkes Seruyan, kata Riza, terus melakukan pembenahan secara bertahap, baik dalam pemenuhan tenaga kesehatan maupun penyediaan alat kesehatan.
"Kami sudah berusaha melengkapi semuanya, baik dari tenaga kesehatan juga alat kesehatannya secara bertahap,” katanya.
Namun, pemenuhan tenaga kesehatan di daerah pedalaman tidak hanya menghadapi persoalan jumlah. Dinkes juga perlu memastikan tenaga medis yang ditempatkan dapat bertahan dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan serta karakteristik masyarakat setempat.
Riza mengatakan sebagian dokter yang bertugas di Seruyan berasal dari luar daerah. Penempatan di wilayah pedalaman terkadang menjadi tantangan karena perbedaan kultur, lingkungan, dan kondisi geografis.
"Selama ini dokter banyak dari luar daerah Kalimantan yang menurut informasi tidak mau bertugas ke hulu karena dikarenakan beda kultur dan budayanya. Tetapi kami berusaha mereka bisa betah bertugas di sana nantinya,” kata Riza.
Karena itu, menurut Riza, pemenuhan tenaga dokter dalam jangka panjang idealnya tidak hanya mengandalkan tenaga kesehatan dari luar daerah. Seruyan membutuhkan lebih banyak putra-putri daerah yang menempuh pendidikan kedokteran dan kemudian kembali mengabdi di daerah asal.
"Harapan saya semoga dokter-dokternya berasal dari daerah kita sendiri yang sudah dididik di fakultas kedokteran,” ujarnya.
Upaya tersebut dinilai dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan distribusi dokter, terutama di wilayah pedalaman. Selain lebih mengenal karakteristik daerah dan masyarakat, tenaga kesehatan lokal diharapkan memiliki keterikatan yang lebih kuat untuk mengabdi di Seruyan.
Dengan demikian, pemerataan pelayanan kesehatan di Seruyan tidak hanya bergantung pada penambahan jumlah tenaga kesehatan, tetapi juga pada ketepatan distribusi, ketersediaan sarana dan prasarana, serta kemampuan mempertahankan tenaga medis di wilayah yang memiliki tantangan geografis. (gan/jp).





