MARABAHAN- Pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Pemkab Batola) mulai mematangkan rencana pengembangan kawasan wisata bawah Jembatan Barito melalui penyusunan dokumen masterplan Tahun Anggaran 2026. Kawasan seluas sekitar 50–60 hektare di sekitar Pulau Bakut dan kaki Jembatan Barito itu dirancang menjadi destinasi wisata terpadu yang menggabungkan rekreasi, ruang terbuka publik, fasilitas komersial, dan aktivitas berbasis sungai.
Rencana tersebut dibahas dalam paparan dan diskusi penyusunan dokumen Masterplan Rencana Pengembangan Kawasan Wisata Bawah Jembatan Barito Kuala di Aula Mufakat, Marabahan, Senin (19/10/2026). Kegiatan mengusung tema “Barito River Gateway – The River, The City, The Gathering”.
Bupati Barito Kuala, H Bahrul Ilmi hadir bersama Sekretaris Daerah Batola, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporbudpar) beserta jajaran, para asisten Sekda, pejabat Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemkab Batola, Direktur Akparnas Banjarmasin, tim konsultan, serta para camat dan kepala desa se-Kecamatan Alalak.
Dalam pemaparannya, konsultan PT Kinarya Alam Raya, Yayan Indrayana, menjelaskan bahwa pengembangan kawasan dirancang dengan sungai sebagai elemen utama yang menghubungkan berbagai fungsi ruang. Konsep tersebut mencakup zona penerima, kawasan komersial berupa hotel, gedung serbaguna dan area ritel, fasilitas rekreasi keluarga, jalur tepi sungai (river walk), jalur joging, serta ruang terbuka publik atau central lawn seluas sekitar 11,8 hektare.
"Tema kita menjadikan sungai sebagai focal point yang mengikat kawasan kota dan titik kumpul berbagai kegiatan. Harapannya, kawasan ini tidak hanya menjadi milik Barito Kuala, tetapi juga menjadi landmark regional Kalimantan Selatan,” ujar Yayan.
Bupati Bahrul Ilmi menyambut positif paparan awal tersebut. Ia berharap pengembangan kawasan wisata bawah Jembatan Barito dapat meningkatkan daya tarik pariwisata daerah, mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, serta membuka peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurut H Bahrul Ilmi, keberadaan Jembatan Barito menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Karena itu, kawasan di sekitarnya diharapkan mampu menjadi ruang publik sekaligus lokasi penyelenggaraan kegiatan berskala regional hingga nasional.
"Potensi wisata di Batola harus terus dipacu agar mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sebagaimana keberhasilan daerah wisata lain di Indonesia. Kita memiliki keunggulan dengan hadirnya ikon Jembatan Barito. Ke depan, dengan fasilitas ruang terbuka dan lapangan seluas 11,8 hektare ini, kawasan bawah Jembatan Barito siap menjadi tuan rumah berbagai acara besar dan menjadi pusat keramaian baru di Kalimantan Selatan,” tegasnya.
Bahrul Ilmi juga memberikan sejumlah masukan untuk penyempurnaan rancangan kawasan. Masukan tersebut meliputi penyediaan area parkir berkapasitas besar, pengembangan taman bunga khas rawa, wahana permainan keluarga dan air, serta fasilitas pendukung seperti musala dan toilet yang bersih dan ramah lingkungan.
Selain pengembangan kawasan wisata, Bupati turut menyampaikan rencana integrasi dengan kawasan permukiman seluas 2.500 hektare dari arah Handil Bakti. Integrasi tersebut diarahkan untuk mendukung pemerataan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi daerah.
Pembahasan masterplan juga melibatkan masukan dari instansi teknis dan kalangan akademisi. Sejumlah aspek yang menjadi perhatian antara lain dukungan ketersediaan lahan dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, fasilitas kesehatan, keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dan aspek keamanan lingkungan yang melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Berbagai masukan tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan dokumen perencanaan kawasan wisata bawah Jembatan Barito. Melalui perencanaan terpadu, Pemkab Batola berharap kawasan ini dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang memiliki daya tarik regional, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. (dsk/ali/jp).







