BREAKING NEWS

Minggu, 12 Juli 2020

Ayam Dikelola Pemdes Murutuwu Tidak Bertelur, Ini Penyebabnya.



TAMIANG LAYANG - Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barito Timur, Ir Riza Rahmadi turun langsung kelapangan untuk melihat permasalahan budidaya ayam ras petelur yang dihadapi oleh pemerintah Desa Murutuwu, Kecamatan Paju Epat. 

Dalam kunjungan ini, Ir Riza Rahmadi didampingi oleh Dokter Hewan Rizaldi dan Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Paju Epat, Lukmanul Chakim.

Untuk diketahui, hingga berusia lebih 20 minggu, 160 ekor ayam ras petelur yang di budidayakan oleh Pemerintah Desa Murutuwu menggunakan Dana Desa, hanya satu ekor ayam diantaranya yang bertelur, padahal usia produksi ayam petelur dimulai pada umur 18 minggu.

"Kita sebagai penanggung jawab pemberdayaan masyarakat khususnya di sektor pertanian dalam hal ini peternakan, turun langsung ke lapangan untuk bersama menganalisis sumber masalah yang dihadapi oleh pemerintah desa sekaligus memberikan solusinya," ucap Riza Rahmadi, Minggu (12/07/2020).

Ia berterimakasih kepada kepala desa maupun masyarakat yang telah menyampaikan masalah yang dihadapi dalam budidaya ayam ras petelur sehingga dapat dicarikan solusinya.

"Yang penting selalu ada  komunikasi semua lintas sektor untuk keberhasilan pemberdayaan di desa, selain itu desa-desa yang akan mengembangkan budidaya ayam petelur sebaiknya berkonsultasi ke dinas pertanian agar diberikan pelatihan sekaligus pendampingan" ucapnya.

Sementara itu, Dokter Hewan, Rizaldi mengungkapkan, permasalahan yang ditemukan pada budidaya ayam ras petelur yang dikelola oleh Pemerintah Desa Murutuwu, sehingga menyebabkan ayam tidak bertelur diantaranya adalah kesalahan peletakan tempat minum.

"Tempat minum yang seharusnya di luar boks ditempatkan di dalam boks sehingga ayam selalu basah dan menyebabkan stres. ayam yang dalam kondisi stres tidak bisa memproduksi telur," kata Rizaldi.

Berikutnya, pengelola juga belum memiliki pengetahuan tentang manajemen pakan. 

"Pakan harus pas takarannya, kalau kurang ayam menjadi kurus, kalau berlebih ayam menjadi kegemukan dan malas bertelur," jelasnya.

Selain itu, Rizaldi juga menemukan bahwa pengelola budidaya ayam petelur tersebut, mencampurkan pakan baru dengan pakan sisa dari hari sebelumnya.

"Harusnya dibersihkan dulu, kalau langsung dicampur dengan pakan sisa resiko berjamurnya tinggi dan resiko penyakit terhadap ayam juga tinggi," ucapnya.

Sebagai solusi bagi permasalahan yang dihadapi Pemerintah Desa Murutuwu, Rizaldi rekomendasikan untuk merubah posisi tempat minum, mengatur ulang pola pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan ayam serta membersihkan sisa pakan yang lama sebelum diberikan pakan yang baru.

"Kita berharap dengan pengelolaan yang benar ayam-ayam itu segera bertelur," pungkas Rizaldi.(zi/l/jp).

Share Berita :

 
Copyright © 2014 Jurnalis Post. Designed by OddThemes