BANJARBARU- Kapolda Kalimantan Selatan, Irjen Pol Dr. Rosyanto Yudha Hermawan memimpin langsung monitoring dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Banjarbaru, Senin (7/9/2026) sore. Selain memantau titik rawan kebakaran, Polda Kalsel mengoptimalkan penggunaan cairan surfaktan untuk mempercepat pemadaman, terutama pada lahan gambut yang sulit ditangani karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah.
Monitoring dipusatkan di Posko Pantau Pengayuan/A. Yani, Banjarbaru, dan melibatkan unsur TNI-Polri, BPBD, relawan, serta 76 mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Dalam kegiatan tersebut, Kapolda Kalsel didampingi Wakapolda Kalsel, pejabat utama Polda Kalsel, para Kapolres/Ta jajaran, Kadisbunnak Kalsel, Kasi Ops Korem 101/Antasari, serta Kepala Pusat Studi Kepolisian ULM.
Kabid Humas Polda Kalsel, Kombes Pol Nur Khamid mengatakan, monitoring diawali dari Mako Satbrimob Polda Kalsel untuk melihat secara langsung proses pembuatan cairan surfaktan. Dari lokasi tersebut, rombongan kemudian bergerak ke Posko Pantau Pengayuan/A. Yani untuk memberikan arahan teknis kepada para Kapolres dan Kabag Ops jajaran.
"Kapolda memberikan arahan terkait langkah-langkah penanganan karhutla, termasuk pemanfaatan cairan surfaktan dalam pemadaman di lahan gambut," kata Nur Khamid.
Setelah memberikan pengarahan, Kapolda bersama rombongan turun langsung ke titik api di Jalan Tambak Buluh. Di lokasi tersebut, Kapolda memimpin penerapan metode pemadaman secara serentak menggunakan sarana dan bahan pemadam yang telah disiapkan.
Wakapolda Kalsel turut memberikan instruksi teknis mengenai tata cara penggunaan sarana pemadaman. Sementara itu, puluhan mahasiswa ULM bersama petugas gabungan TNI-Polri, BPBD, dan relawan ikut melakukan penanganan di lapangan.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama mahasiswa di Randulap Posko Pantau Pengayuan.
Penanganan karhutla di Kalimantan Selatan menghadapi sejumlah kendala, terutama pada lahan gambut. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan secara konvensional. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan asap tetap muncul meski api di permukaan telah berhasil dipadamkan.
Situasi semakin sulit ketika ketersediaan air menurun akibat musim kemarau. Selain itu, armada pemadam berukuran besar tidak selalu dapat menjangkau titik api, sementara bahan baku surfaktan masih harus didatangkan dari luar daerah, termasuk Surabaya, dan proses produksinya masih dilakukan secara manual.
Untuk menjawab kendala tersebut, Polda Kalsel mengembangkan sejumlah metode dan sarana pendukung pemadaman.
Salah satunya adalah cairan surfaktan berbasis methyl ester sulfonate (MES). Formula berbasis minyak nabati tersebut digunakan dengan air untuk membantu membentuk busa dan meningkatkan kemampuan cairan pemadam meresap ke lapisan gambut.
Menurut Polda Kalsel, penggunaan surfaktan memiliki rasio pencampuran 1 liter konsentrat surfaktan dengan 100 liter air. Cairan tersebut juga diklaim tidak bersifat korosif dan dapat membantu mendinginkan lapisan gambut sehingga mengurangi potensi munculnya kembali titik api.
Inovasi lainnya berupa kolam bioflok portable, yakni tempat penampungan air yang dibuat dari rangka besi dan terpal. Dengan biaya sekitar Rp3,5 juta hingga Rp3,7 juta per unit, kolam tersebut dapat dibongkar-pasang dan dipindahkan mendekati lokasi kebakaran.
Keberadaan kolam portable diharapkan dapat mengatasi keterbatasan jarak jangkau selang pemadam, terutama ketika sumber air berada jauh dari titik api.
Polda Kalsel juga menerapkan metode sumbu bawah tanah atau "Sumbut". Metode ini menggunakan pipa PVC atau besi berlubang yang ditancapkan ke lapisan gambut dan dihubungkan dengan nozzle selang.
Air yang telah dicampur surfaktan kemudian dialirkan melalui pipa tersebut untuk menjangkau titik api di bawah permukaan tanah.
Untuk memperkuat penanganan di tingkat daerah, Polda Kalsel melibatkan para Kapolres, khususnya dari wilayah yang dinilai rawan karhutla seperti Tanah Laut, Barito Kuala, Kabupaten Banjar, dan Banjarbaru.
Para Kapolres diberikan pemahaman mengenai teknik pencampuran konsentrat surfaktan. Pasokan cairan tersebut selanjutnya didistribusikan ke wilayah hukum masing-masing untuk mendukung penanganan karhutla.
Polda Kalsel juga memperluas dukungan ke wilayah regional dengan mengirimkan bantuan 1 ton cairan surfaktan kepada Polda Kalimantan Tengah.
Ke depan, Polda Kalsel menyiapkan gudang Biro Logistik untuk dikembangkan sebagai fasilitas produksi surfaktan skala lebih besar. Rencana tersebut akan dilakukan setelah ketersediaan bahan baku dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
Selain penanganan di lapangan, Polda Kalsel menggandeng Pusat Studi Kepolisian ULM dan mahasiswa dalam kegiatan edukasi serta riset. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengembangkan metode pencegahan dan penanganan karhutla yang lebih efektif, khususnya di wilayah lahan gambut.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat respons saat terjadi kebakaran, tetapi juga mendorong pengembangan inovasi dan edukasi masyarakat untuk menekan risiko karhutla di Kalimantan Selatan. (fah/jp).